Wednesday, March 12, 2014

Brother and Sister Backpack to China - Welcome to Tianjin

- Part 3 - 

Sabtu, 15 Februari 2013

Tengah malam kami masih berada di Kereta Api, penumpang silih berganti dan ternyata tengah malam itu kami dipaksa harus pindah lagu ke gerbong yang terdahulu, berhubungan karena tempat duduk yang saat itu kami duduk sudah ada yang punya. Pindah lagi… lumayan mas didit masih bisa duduk. Kondisi gerbong masih lengang. Tetapi semakin pagi semakin banyak orang yang masuk dan Mas Didit harus pindah karena di tempat dia duduk sudah ada yang memiliki. Kebetulan di sebelah ku kosong ku arahkan mas Didit duduk di sebelahku. 

Kondisi gerbong semakin padat. Untuk jalan saja sudah susah rasanya. Aku terus berharap tempat duduk yang saat ini Mas Didit duduki tidak ada yang punya. Setiap kereta api berhenti di stasiun dan penumpang naik, selalu saja harap – harap cemas kalau-kalau mas Didit harus berdiri. Tapi syukurlah walaupun kereta api semakin padat mas Didit masih bisa duduk sampai kami tiba di Tianjin. Alhamdulillah

Setelah 30 jam di dalam kereta dengan keadaan yang luar biasa kami sampai di Tianjin. Tujuan kami adalah Asrama orang asing di Tianjin. bertemu dengan mahasiswa asal Medan yang sudah seperti adik kami sendiri. Keluar dari kereta api melalui pintu utara dan tiket kami harus kembali di scan di pintu keluar. Adik kami itu namanya Dani sebelumnya dia sudah mengirimkan pesan dengan tulisan China. Kami tinggal menunjukkan saja ke supir taxi. Menuju poll taxi kami harus mengantri hampir setengah jam baru mendapat giliran. Kami menunjukkan alamat yang sudah bertuliskan China kepada supir taxi.
 
Begitu keluar dari stasiun kesan yang aku langsung takjub dengan suasana Kota Tianjin yang bernar-benar keren. Semua gedung dengan arsitekturnya bertema kan Eropa. Tidak lama setelah nya kami sampai di alamat yang dituju. Begitu taxi berhenti tenyata Dani sudah menunggu dan membuka taxi kami. Setelah membayar taxi sepertinya kami harus mencari warung makan. Karena perut ku selama 30 jam belum pernah diisi nasi. Aku lafarrr pemirsahh harus makan nasi.

Restoran Muslim di China
Dani mengarahkan kami ke resoran halal. Subhanallah ada juga makanan Halal. Ternyata makanan halal di China yang punya adalah warga Shin Jiang salah satu provinsi di China yang sebagian besar masyarakatnya bergama muslim. Dan hampir semua restoran muslim di China pemiliknya adalah suku Shinjiang. Makanannya enak, ciri khas makanan mereka adalah sate yang dipanggang, mie, nasi dan dan semuanya halal. Tampilan restoran ini dari luar ada tulisan arab bertulisakan Bismillahhrahmanirrahin dan Halal. Soal rasa makanan yang ada di dalamnya. Jempol enaknya. Pas dengan lidah orang Indonesia.
 





Setelah selesai mengisi lambung Dani mengajak kami ke asramanya, dia menyarankan agar kami nginap di asaramanya saja. Agak segan tapi boleh lah hitung-hitung penghemtan. Setelah magrib kami diajak keluar oleh Dani dan temannya yang aku kenal bernama Pak Regar. Diajak keliling Tianjin, melihat sungai yang membeku, lampu-lampu, lampion yang berterbangan, ke pasar tradisinoal, Italy Style Town. Menikmati suasana malam di Tianjin dengan suhu dibawah nol derajat buat aku kedinginan terus. Kalau ngomong keluar asap. Kesan ku tentang Tianjin adalah Kereeen, indah dan luar biasa. Kembali ke asrama sudah lewat tengah malam. Dan aku pun berisitirahat merebahkan badan









Add caption

Sunday, March 09, 2014

Brother and Sister Backpack to China : Shenzhen - Tianjin dengan Kereta Api

- Part 2 - 

Jum’at, 14 Februari 2014

Stasiun sudah sepi. Pertama yang kami lakukan adalah mencari tempat pembelian tiket. Kami berharap hari ini akan lebih mudah. Setelah bertanya kebeberapa orang dengan bahasa isyarat dan menunjukkan tulisan China ditulis oleh Sarai akhirnya kami temukan tempat pembelian tiket yang berada di lantai atas, karena sudah malam counter tiketnya tutup, besok kami tidak akan sulit mencarinya. 

Karena hari sudah larut malam kami akan beristirahat di stasiun, kami fikir tidak perlu memesan hotel karena besok pagi-pagi sekali kami sudah harus berangkat ke Tianjin. Saat berjalan tadi didalam stasiun kami melihat ada beberapa orang yang tertidur di salah satu sudut ruangan di stasiun. Kami pun akan mengambil posisi tidak jauh dari mereka untuk beristirahat. 

Kami merebahkan badan dengan beralaskan kain tipis, berbantalkan tas tanpa membuka sepatu yang kami kenakan, rasanya dingin sekali. Tapi cukup nyaman bisa merebahkan badan. Tidak lama setelah itu petugas datang dan berbicara, kami tidak tau maksudnya karena dia berbicara dalam bahasa China tapi mungkin kami yang tertidur disana disuruh pindah ke atas. Karena kami lihat orang-orang yang tidur disudut tadi bangun dan mengemasi barang-barang mereka. Kami pun melakukan hal yang sama ikut mengemasi barang-barang kami dan mengikuti mereka. Penggusuran pertama terjadi. Ternyata diatas sudah banyak orang kemungkinan kemalaman seperti kami dan menunggu kereta pagi.

Aku mencari tempat lagi untuk merebahkan badan bersama orang-orang yang ada di stasiun. Aku tidak bisa tidur terlalu banyak orang. Aku dan mas Didit memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi stasiun. Sambil melihat petugas kebersihan membersihkan stasiun di tengah malam. Tidak berapa lama kemudian kami juga harus pindah ke sisi lain stasiun karena petugas kebersihan akan membersihkan tempat ini. Penggusran tahap dua pun terjadi. Berbondong-bondong kami penghuni stasiun berpindah ke sisi yang disarankan petugas. Aku langsung membuat lapak di salah satu sudut ruangan, begitu juga dengan yang lain. Aku merebahkan badanku dan mas Didit juga, suhu udara semakin dingin rasanya. Aku tambahkan kaus kaki menjadi lapis 2. Mas Didit sebentar saja merebahkan badan sepertinya dia tidak bisa tidur dibiarkannya aku tertidur walaupun bukan tidur nyenyak. Sementara Mas Didit masih jalan-jalan mengintari stasiun
Lapak ku dan Mas Didit di Shenzhen North Stasiun
Menunggu pagi dengan berbagai posisi duduk, rebahan, berdiri, jalan-jalan intinya adalah bagaimana menghalau dingin malam itu. Saat aku dan mas Didit sedang mencoba memejamkan mata kami dikagetkan dengan suara seseorang yang teriak – teriak, tentu saja bahasan nya tidak aku pahami, suara tersebut berasal dari arah pos penjagaan petugas. Seketika aku melihat seseorang dengan berpakain petugas mengamuk sambil berteriak-teriak kemudian terjatuh. Suasana stasiun jadi gaduh, orang-orang yang sudah tidur terbangun dan menuju kearah petugas secara berbondong-bondong dan si petugas akhirnya menjadi pusat perhatian. Mas didit yang berinisiatif menuju keramaian itu dan ternyata si petugas sedang terkena ayan atau epilepsy.

Suasana stasiun masih gaduh, aku hanya memperhatikan dari sudut tempat kami membuka lapak, mas didit tidak mengizinkan aku mendekat. Tidak lama kemudian datang paramedic yang menangani petugas tersebut. Setelah selesai mengani petugas tersebut paramedic pun berlalu, tidak lama kemudian petugas yang terkena epilepsy dibawa oleh salah satu rekannya meninggalkan stasiun
 
Masih ada beberapa yang membicangkan kejadian tadi, walaupun tidak tau apa yang mereka omongkan mungkin kira-kira mereka masih heboh lah dengan kejadian tadi. Aku dan Mas Didit sudah tidak bisa tidur lagi. Berbagai gaya pun kami lakukan lagi, rebahan, duduk, berdiri, jalan-jalan untuk menunggu pagi. Selama di stasiun kami memanfaatkan air panas gratis yang disediakan disana, lumayan untuk menghangatkan badan.

Tepat pukul 5 pagi seluruh lampu di stasiun dinyalakan kami pun menutup lapak kami. Sudah mulai banyak orang. Sepertinya ada kereta api yang baru tiba karena banyak sekali orang berbondong-bondong dengan membawa koper, goni, tas besar dan lain-lain berlalu di depan kami. Kami kembali ke atas tempat penjualan tiket yang ditunjukkan oleh petugas tadi malam. Ternyata masih tutup dan terlihat oleh kami counter akan buka pada pukul 7 berarti kami harus menunggu kurang lebih 2 jam lagi.
Kembali kami berjalan, diatas adalah ruangan terbuka sehingga sangat dingin berada disana pagi-pagi begini.

Mas Didit menyarankan agar aku menunggu saja dibawah dan dia yang akan mengecek apakah counter sudah bukan atau belum. Karena udara dingin akan buat aku beku seketika. Selama menunggu aku memperhatikan keadaan orang-orang di stasiun, semua orang menggunakan baju tebal, yang perempuan memakai sepatu boat, membawa koper ada yang membawa goni, tas besar, bahkan ada yang membawa hasil ladang seperti sayur-sayuran. Kalau aku menyimpulkan gaya mereka keren, stylist seperti di film – film drama mandarin yang pernah aku tonton.

Akhirnya tiket counter buka pukul 07.00 pagi. Lagi – lagi dengan mengandalkan tulisan China si cantik Sarai kami menunjukkan kepada salah satu pembeli tiket di antrian. Seorang bapak berusia setengah baya menginformasikan kepada kami dengan bahasa isyarat sambil menuju pintu keluar bahwa pembelian tiket untuk keberangkatan kami tidak di counter ini tapi dibawah. Aku dan mas Didit berlari – lari menuju counter yang dibawah, sesampainya di bawah kami bertanya dengan menunjukkan tulisan tadi kepada calon penumpang yang sedang ikut antrian tiket dan dia bilang dengan bahasa inggris yang terbata-bata bahwa bukan disini beli tiketnya tapi dilantai atas. Waduhhh apa yang salah ini, aku mencoba jelaskan bahwa dari atas menyarankan turun ke bawah tapi dia juga bersikeras tidak dibawah. Aku dan mas Didit berlari-lari lagi ke penjualan tiket yang ada di lantai atas, kali ini aku tidak bertanya kepada penumpang tapi kepada petugas tiket. Aku menunjukkan tulisan itu kepda petugas tiket eh malah si petugas balik menulis dengan tulisan China dan menunjukkan ke arah ku. Tentu saja aku dan mas Didit ga tau apa tulisan itu. Berkali-kali aku katakan kepada petugas "English Please" tapi dia malah menjawab dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Akhirnya salah seorang calon penumpang yang mengantri memberikan penjelasan dengan bahasa Inggris yang lumayan aku mengerti kalau pembelian tiket berada di bawah bukan disini. Aku juga menjelaskan sudah bertanya ke bawah. Dia bilang lagi tidak disini.

Gawatttt… sekali sudah setengah 8 dan kami belum mendapatkan tiket untuk ke Tianjin. Aku dan Mas Didit berlari lagi kebawah, masuk ke salah satu ruangan dan bertanya kepada petugas di dalam ruangan, si petugas malah menggeleng. Ya ampunn susahnya. Nafas ku sudah ngos – ngosan berlari – lari di udara dingin terkadang sempat membuat dada ku sakit. Untuk kedua kalinya aku sampai di Check in counter di lantai bawah dan aku nekat menerobos antrian orang- orang langsung menuju petugas sambil menujukkan tulisan sakti kami. Alhamdulillah di tengah nafas yang sudah ngos-ngosan akhirnya memang disini lah pembelian tiketnya. 2 tiket ke Tianjin nomor kereta K 1260 pukul 18.18 untuk hard seat. Ternyata Cuma ada 1 seat. Brarti 1 orang dari kami tidak akan mendapat tempat duduk. Ya Sudah lah bungkusss yang penting berangkat dulu. Harga tiketnya adalah ¥ 254 untuk 1 orang hard seat. 1 tiket yang no seat juga bayarnya sama.

Kecapean anak muda nya...
Lega rasanya sudah masuk ke ruang tunggu… kurang lebih 25 menit kami menunggu sebelum boarding masuk ke kereta api. Antrian yang mengular dan kami harus menscan tiket kami di pintu boarding. Ini pertama kali kami menggunakan kereta api di China, di dalam tiket semua tulisan China Aku dan Mas Didit ga ngerti bacanya. Kami salah gerbong dan harus balik lagi ke gerbong yang tertera di dalam tiket. Ah baru ngerti mana gerbong mana nomor tempat duduk. Setelah menemukan tempat kami aku duduk kebetulan saat itu kereta api masih kosong jadi aku dan mas Didit bisa duduk berdampingan walaupun mas Didit tidak punya nomor kursi.

Kereta api perlahan-lahan bergerak, seorang kepala gerbong berbicara kepada kami, sambil teriak-teriak yang aku tidak menegrti dia bicara apa. Suaranya keras mimik muka juga aku tidak mengerti maksudnya apa. Aku dan mas Didit berkali-kali bilang English please tapi dia terus mengoceh dengan bahasa yang aku sama sekali tidak mengerti. Mungkin saking bingung nya dia menjelaskan dan begitu juga kami saking ga ngerti apa yang dia omongkan dia menunjuk tas kami dan menunjuk gerbong sebelah. Aku fikir karena mas Didit tidak ada seat nya dia harus pindah. Saat Mas Didit bergerak dan aku menunjuk diriku sendiri seakan menyakinkan kepada petugas itu apakah aku harus pindah juga ? Dia menggangguk jadi lah kami pindah ke gerbong sebelah.

Penumpang di kereta tidak terlalu banyak. Jadi mas Didit bisa duduk di depanku dengan nyaman. Menikmati suasana kereta sambil memperhatikan masyarakat China. Sepertinya bebicara dengan suara keras adalah budaya mereka. Awalnya aku fikir mereka bertengkar ternyata tidak itu lah gaya mereka berbicara. Walaupun aku berdarah batak tapi ngeliat orang berbicara keras tetap saja membuat aku terkaget- kaget.

Didalam kereta api kami bertemu dengan orang China yang bisa berbahasa Indonesia, dia yang pertama menegur kami dengan melihat Mie Instant Cup merek ABC yang kami letakkan di atas meja kami. Dia langsung mengenalinya. Senangnya bisa berbahasa Indonesia disini, ternyata dia bekerja di Pabrik mainan di Tangerang dan sudah 5 tahun tinggal di Indonesia. Kali ini kembali ke China dalam rangka cuti. Bahasa Indonesia sangat lancar. Tetapi ternyata sore hari dia harus turun karena sudah sampai ke tempat tujuannya. Sementara kami harus menggenapi perjalanan kami selama 30 jam.


Thursday, March 06, 2014

Brother and Sister Backpack to China - Selamat Datang di Shenzhen, China

Part - 1 - 

Kali ini kisah backapacker ku bersama saudara kandung ku sendiri, berdua menjelajah ke Negeri China Selama 10 hari. Berpetualang tanpa rencana yang jelas, dana yang sedikit, bahasa yang tidak kami kenal, tempat yang tidak kami tahu sebelumnya. Saat nya goes to the extra miles. Melihat tempat-tempat baru diluar sana. Sekaligus menguji nyali 2 bersaudara brothet n sister dari keluarga Sutomo. Akan melukiskan sejarah baru hidup kami yang tidak akan bisa terlupakan seumur hidup dan tentunya bahan cerita untuk keluarga kami nanti.

Kamis, 13 Februari 2014
Perjalanan di mulai pada pagi-pagi sekali. Penerbangan tujuan KNO – KUL pada pukul 06.25 pagi dengan pesawat low cost Air Asia. Perjalanan dari Kuala Namo ke Kuala Lumpur di tempuh dengan hanya 45 menit dengan arti kata belum lagi aku meluruskan tempat duduk ku, aku sudah sampai. Perjalanan pagi ini aku lalui sendiri karena saudara laki-laki kandung ku yang aku panggil Mas Didit akan berangkat langsung dari Jakarta ke Kuala Lumpur, dengan begitu meeting point kami adalah Kuala Lumpur International Airport.
 
Mas Didit akan sampai pukul 11.00 waktu Kuala Lumpur atau pukul 10.00 waktu Indonesia Barat. Sementara aku sudah sampai di KLIA pada pukul 07.30 WIB menunggu 2,5 jam tidak ada masalah buat ku. Lumayan selama menunggu aku bisa mengisi gadget ku untuk perjalanan panjang kami

 
Ketemu juga dengan mas Didit. Sebelum mulai berpetualang kami mengisi lambung dulu buat persiapan. Tujuan perjalanan kami adalah Shenzhen di Daratan China dan beberapa Kota di China. Kemana saja itu belum bisa kami pastikan. Yang jelas visa untuk ke China sudah kami persiapkan multiply entry di China, dengan begitu kami akan dua kali masuk ke negera ini.

Pesawat yang akan membawa kami ke Shenzen pukul 16.50 waktu Kuala Lumpur tetapi ternyata harus delay selama 45 menit. Harus menunggu dengan sabar. Selama menunggu aku dan Mas Didit merencakan perjalanan backpacker kami. Tujuan pertama adalah Hongkong. Ternyata di tengah diskusi berubah, kami akan ke Tianjin atau Beijing dahulu. Selama waktu menunggu kami berusaha memesan tiket pesawat dari Shenzhen ke Tianjin. Nihil kami tidak menemukan tiket yang murah.  Kami mencoba mencari jadwal kereta api. Harga nya kurang lebih juga hampir sama dengan harga pesawat. Mas Didit bilang yang penting sampai dulu ke Shenzhen. Baiklah aku meyakinkan diri. Kalau ada mas Aku percaya. Ini adalah perjalanan keluar negeri pertama buat Mas Didit dan aku yang kami lakukan bersama, aku sudah pernah backpacker ke Malaysia dan Singapore  tapi tentu saja China adalah pertama kali akan aku lakukan


Akhirnya pesawat yang akan membawa kami terbang selama 3 jam 45 menit berangkat. Ini merupakan perjalanan di pesawat terlama yang pernah aku jalani. Paling lama aku terbang selama 3 jam tujuan Medan – Surabaya. Berada di dalam cabin pesawat dengan komunitas China terasa berbeda, hanya aku yang menggunakan jilbab sedangkan yang lainnya mayoritas beretnis China. Aku bangga dengan jilbabku dan aku bangga mengenakan nya kemana pun aku pergi. Dan aku bangga menjadi seorang Muslimah.

Tempat duduk aku dan mas Didit berbeda karena untuk ke Shenzhen ini dia sudah memesan tiket nya dari sepuluh bulan yang lalu. Sementara aku baru saja beli tiket. Hmm gimana rasanya ya duduk hampir 4 jam disebelah orang yang tidak aku kenal. Aku tidak kehabisan akal, kebetulan seorang ibu paruh baya duduk disebelah ku dihampiri oleh seorang laki-laki yang ternyata duduknya di sebelah mas Didit. Setelah pesawat take off dan tanda sabuk pengaman di padamkan aku hampiri kursi mas Didit dan dengan bahasa Inggris aku minta kami bertukar tempat duduk. Tenyata dia tidak bisa berbahasa Inggris, dengan bahasa isyarat akhirnya dia menegrti. Mas Didit pindah ke bangku belakang disebelah ku. Alhamdulillah ada teman cerita
Selama dipesawat kami berbincang sambil memesan makan in fly café lumayan makan malam aman. Dan kebetulan mas didit udah pre order sebelumnya. Cocok sekaleee…

Pesawat mendarat di Shenzhen international airport. Keluar pesawat, masuk imigrasi disambut dengan cuaca yang sangat dingin, kami berada di 5 derajat saat itu. Wushhh rasanya seperti menusuk ke tulang dinginnya. Berada di Bandara asing dengan bahasa yang tidak kami kenal dan tidak ada tulisan latin semuanya tulisan China. Awalnya kami berniat mencari counter tiket pesawat untuk ke Beijing atau Tiajin. Harus bertanya ke orang nihh. Tapi apa yang kami dapatkan tidak ada yang bisa berbahasa Inggris. Ooo my good setiap bertanya kepada orang setempat mereka menggeleng sambil ngomong bahasa China yang aku sama sekali ga ngerti artinya.

Rencana berubah karena kami tidak mendapat tiket pesawat kami putuskan kami akan ke Hongkong malam itu. Berarti kami harus Ke Low Wu, yang penting harus keluar dari Bandara dulu, tapi bagaimana caranya, taxi yang menawarkan kami semua minta ¥ 200. Itu sama aja dengan 400 ribu rupiah. Baru nyampe udah kehabisan duit bisa buat galau nihh.
Dari Bandara International Airport Shenzhen ke MRT
Setelah celingak celinguk dan bertanya ke orang-orang gada yang bisa ditanya karena factor bahasa, aku memberanikan diri mendekati seorang gadis China cantik kayak artis untuk bertanya. Kami bilang kami akan ke Low Wu, dengan bahasa Inggris yang sangat patah-patah malah lebih sering kami berkomunikasi dengan bahasa tubuh atau gambar akhirnya dia menolong kami. Mengarahkan kami ikut antrian untuk mencapai Metro (MRT) keluar dari Bandara gunakan bus dengan nomor M 416 menuju MRT. 

Ternyata si cantik tidak sendirian sepertinya bersama pasangannya. Sungguh sepasang kekasih yang baik hati dengan komunikasi yang terbatas dia berusaha membantu kami, setelah tiba di satsiun MRT sepasang kesasih itu menolong kami memesan tiket ke Low Wu dengan menggunakan mesin otomatis (maklum kami ga ngerti mengoperasikannya, Suasana hati yang belum stabil dan kondisi kami yang masih panic membuat kami memang membutuhkan bantuan dari orang lain.  ¥ 5 per orang untuk ongkos MRT aku dan mas Didit. Karena pecahan yang kami bawa masih besar-besar kami harus menukarnya kepecahan ¥ 5 di customer service.  Ternyata cara membeli tiketnya gampang, kalau tidak mengerti tulisan China silahkan pilih bahasa Inggris. Kemudian pilih stasiun tujuan kita. Eh iya layarnya touch screen lohhh jadi tinggal sentuh-sentuh aja.
 
Selama di dalam MRT aku mengambil kesempatan untuk bertanya kepada si cantik. Aku dan mas Didit merubah arah perjalanan kami, tujuan kami adalah Tianjin. Setelah keputusan singkat itu aku bertanya kepada si Cantik yang aku ketahui namanya adalah Sarai. Bagaimana kami akan kesana, kebetulan mas Didit sudah mengeprint jadwal keberangkatan kereta api dari Shenzhen ke Tianjin. Aku bertanya kepada Sarai dengan menunjukkan jadwal yang sudah kami print tersebut. Ternyata jika mau kesana kami harus ke Shenzhen East Railway station. Dan dia menyarankan kepada kami untuk berhenti disalah satu stasiun dan menyambung dengan taxi sebenarnya bisa menggunakan MTR tetapi karena sudah larut malam. Saat itu waktu menunjukkan hampir pukul 11.00 waktu Shenzhen dan MTR sudah tidak beroperasi pukul 11.00 malam. Menurut Sarai ongkonsya adalah ¥ 40 – 50 dan itu pun menggunakan argometer.  Untuk mempermudah aku meminta Sarai untuk menuliskan bagaimana ke Shenzhen East dengan murah hati dia menuliskan nya dalam tulisan Cina, mumpung masih bareng aku sekalian meminta dia untuk menuliskan dalam tulisan China bagaimana kami akan ke Shenzhen dengan kereta api no K 1620 pukul 08.18. dan berhasil. Saat nya berpisah dengan Sarai karena dia akan segera turun. Tak lupa aku meminta alamat e-mail nya untuk menjalin komunikasi dengan dia setelahnya. Terima kasih Sarai. Xie Xie
 

Baiklah sekarang hanya aku dan mas Didit. Kami akan turun di stasiun yang sudah di arahkan Sarai. Keluar MTR langsung nyari taxi dan menunjukkan tulisan Sarai bagaimana ke Shenzhen East. Benar saja dia paham dan sampai disana ongkos nya ¥ 35. Perjalanan akan dimulai dari sekarang. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 tengah malam. Kami sampai di Shenzhen East Raiway stasiun. Apa yang akan terjadi selanjutnya yaa.... ???

Sunday, February 23, 2014

Catatan seorang Penderita Bell’s Pasly

Nama ku Yuan tinggal di Medan. Aku seorang perempuan mandiri dengan seabrek aktifitas. 

Hari 1 - 2 (25 - 26 Januari 2014)
Suatu hari aku sedang mengikuti pelatihan dari pekerjaan ku di salah satu Hotel di Medan, seperti biasa hotel selalu mengedepankan kenyaman bagi para pengunjungnya dan diruangan pelatihan yang saat itu kami gunakan bersuhu sangat dingin. Aku harus menganakan baju tambahan agar lebih nyaman. Aku termasuk orang yang tahan dengan suhu dingin dan tidak tahan akan cuaca gerah dan panas. Bagi ku ruangan ber AC sudah menjadi keseharian dalam hidup ku. Tapi kali ni aku rasakan suhu di gotel tempat aku pelatihan sangat luar biasa dinginnya

Awalnya aku merasa seperti muka ku kaku sebelah yang aku rasakan adalah wajah sebelah kiri, tengang sekali rasanya. Saat aku ambil wudhu aku merasa mata sebelah kana perih terkena air. Aku masih berfikiran wajah sebelah kiri yang kaku. Aku berada diruangan pelatihan sampai malam dan selama itu juga lah aku tekena suhu AC yang luar biasa dingin.
Setibanya dirumah aku perhatikan wajah ku, masih dalam keadaan simetris. Orang tua ku berfikir aku terkena hipertensi, tetapi aku tidak punya sejarah hipertensi yang ada juga darah rendah. Aku coba menjari artikel-artikel di internet seperti gejala yang aku rasakan dan aku temukan nama penyakit ini adalah “Bell’s Palsy” masih dalam asumsi ku karena aku belum ke dokter berhubung hari itu adalah hari sabtu dan minggu.

Dari artikel yang aku baca bisa jadi aku terkena gejala bells palsy karena ku merasakan perbedaan di bagian sebelah kanan wajahku aku ketahui setelah aku berkali-kali menatap cermin dan memastikan wajah sebelah kanan ku ada merasakan kelaianan. Terasa tegang dan sepertinya tidak mau melaksanakan respon yang aku berikan

Aku memuncungkan bibirku, bibir sebelah kiri maju dengan tebal dan sempurna untuk bagian atas dan bawah, sementara untuk bibir bagian kanan hanya sedikit mengalami kemajuan, terdapat perbedaan ketebalan antara bibir kanan dan bibir kiri. Aku coba lagi memencongkan mulut ku kekiri dan kenanan. Jika ke kiri mulutku dapat bergerak dan mencong kekanan, tetapi jika ke kiri tidak bisa maksimal hanya 50 persen dari maksimal mencong ke kiri. Aku coba menaikkan alis ku dan alis kiriku sempurna tetapi kanan tidak sempurna, aku juga kesulitan untuk mengedipkan mata ku. Aku lebih suka menutupnya jadi mata kiri dan kanan ikut menutup. Lidah ku mulai kelu tetapi bukan berarti aku tidak merasakan makanan, aku masih bisa makan seperti biasa walaupun tidak sempurna. Karena sisi wajahku sebelah kanan syarafnya kurang berfungsi dan tidak bisa menutup rapat jika minum dan aku memenuhkan mulutku dengan air maka airnya sebagian keluar dari bibir kanan ku yang tidak tertutup sempurna

Aku perhatikan lagi wajahku dan aku pastikan wajahku masih simetris. Mungkinkah ini gejala bells palsy atau ada gejala lain ? semakin aku membaca artikel di internet tentang penyakit ini semakin takut yang aku rasakan.

Hari ke 3 (27 Januari 2014)
Sore ini atau hari ketiga aku menyadari perubahan pada wajahku aku harus ke dokter syaraf. Semoga hasilnya tidak membuat ku khawatir, Antrian di dokter syaraf ini sangat lama, giliran ku jam  12 malam atau nomor 61 urutan pasien. Tidak tepat jam  12 malam, aku mendapat giliran ketemu dokter jam 1 malam. Dan benar saja, diagnose dokter mengatakan aku positive mengidap bell’s pasly, disarankan untuk minum obat dan fisioterapi secara rutin. Aku Tanya kenapa aku bisa terkena penyakit ini dan apa sebabnya dokter bilang bell’s pasly adalah “unknown situation” artinya gada yang tau kenapa kemungkinan adalah virus herpes yang terbawa angin.  Biasanya gejala ini timbul karena penderita tersebut terpapar langsung oleh angin. Bell’s palsy adalah kelumpuhan syaraf wajah ke 7 yang menyebabkan tidak berfungsinya sebelah wajah alias lumpuh.

Yang ada dalam fikiranku saat itu adalah apakah aku bisa sembuh, apakah senyum yang biasa merekah di wajahku bisa kembali normal seperti sedia kala. Aku benar-benar takut saat itu

Hari ke 4 – 5 (Fisioterapi Pertama) 28 - 29 Januari 2014
Aku memulai Fisioterapi pertama ku. Dipijat bagian muka dan dilatih bagaimana bisa menggerakkan otot syaraf di wajah. Aku juga harus rajin berlatih dirumah minimal 3 kali sehari di depan cermin seperti mengucapkan huruf vocal A, E, O, U. membuka dan menutup mata, menaikkan alis, menaikkan hidup, karena syaraf wajah ku bagian kanan tidak berfungsi aku harus bantu dengan cara manual juga menaikkan alis ku dan menaikkan hidung. Saat aku melihat wajahku ke cermin, ada perasaan kesal dalam hati kenapa wajah sebelah kanan ku tidak mau bergerak sekuat apapun aku berusaha.

Aku terus mancari keterangan di internet tentang bell’s palsy. Ada yang membuat aku nyaman tetapi ada juga yang membuat aku semakin panic karena ternyata ada yang menderita BP ini sampai dengan 10 tahunan dan belum sembuh. Apakah aku akan mengalami hal seperti itu juga ??

Dirumah aku rutin berlatih dan di depan cermin tidak lupa juga aku rajin mengkompres wajah ku dengan air hangat seperti yang dianjurkan fisioterapis. Selain itu juga aku rajin mengunyah permen karet di bagian sebelah kanan

Hari 6 – 7 (Fisioterapi ke 2) 30 - 31 Januari 2014
Aku merasakan kedutan terus di bagian wajahku. Sepertinya seluruh wajah bagian kanan ku tidak mau berhenti berkedut. Aku mulai bertanya dalam hati apakah ini termasuk pertanda baik atau pertanda buruk. Segera aku mencari informasi tanda kedutan di internet, tapi tidak banyak yang aku temukan L, yang aku temukan adalah Kedutan adalah tanda dari penderita bell’s palsy. Ahhh aku benar-benar tidak tau apa maksudnya. Aku bertanya ke teman yang seorang therapist kabar baik alhamdulilah pertanda baik. Sedikit tenang rasanya, dia bilang kedutan itu pertanda syaraf-syaraf di wajah mulai bereaksi. Alhamdlillah.

Hari ke 6 adalah kali ke 2 aku terapi, selain dipanas kan, aku juga mendapat terapi kejut listrik di beberapa otot syaraf di titik-titik wajah kanan ku. Seperti di gigit semut, ngilu jika dekat dengan gusi dan kaget kaget juga aku rasakan. Tapi semua demi kesembuhan. Aku bertanya kepada terapis, pertanyaan ku simple sekali kapan aku bisa sembuh dan dia menjawab 1 bulan. Wahhh lama sekali merasakan 7 hari saja aku sudah tidak tahan. Sang therapist melanjutkan untuk sakit ini, butuh kesabaran karena berproses kesembuhannya. Baiklah semoga aku diberkan kesabaran ya Allah

Hari ke 8 – 9 ( Fisioterapi ke 3) 1 - 2 Februari 2014
Aku sangat rajin berlatih dirumah, aku mau proses kesembuhan ku dipercepat. 3 x sehari aku berlatih di depan cermin seperti yang dianjurkan therapist. Aku merasakan perubahan. Alis mataku sudah mulai bisa terangkat walaupun sedikit, mata ku sudah bisa dikedipkan walaupun tidak sempurna, kalau sebelumnya kena respon gerakan saja mata kanan ku tidak mau berkedip sekarang sudah berkedip. Ahamdulillah. Bibir kanan ku sudah mulai bisa tersenyum sedikit. Pertanda baik. Semakin rajin aku berlatih,  aku tetap menjalani terapi ke tiga ku. Penyinaran dengan lampu, kejut listrik,pemijatan dan latihan.

Hari ke 10 – 11 (Fisioterapi ke 4) 3 - 4 Februari 2014
Hari ke – 10 adalah jadwal aku ketemu dengan dokter dan juga jadwal terapi. Aku harap-harap cemas apa yang terjadi. Aku awali dengan terapi yang masih sama sistemnya. Kemudian ketemu dengan dokter, aku diminta pejamkan mata dan dokter memfoto wajah ku dan menunjukkannya pada ku. Dokter bilang perubahannya cepat dan mulai berfungsi, ini adalah konsultasi terakhir, dokter akan memberik obat selama 1 minggu dan terapi dilanjutkan 3 atau 4 kali lagi. Alhamdulillah kabar baik sekali. Dokter memantau pengobatanku dan aku juga merasakan perubahan di wajahku semakin hari semakin membaik.  Mulut ku sudah tidak kaku lagi aku sudah bisa tersenyum, alis ku sudah terangkat, mata ku sudah berkedip lebih baik, kondisi ku sudah 70 persen. Kalau kata teman-teman ku yang melihat sudah kembali normal. Dan hanya saat bicara banyak saja kelihatan.

Hari ke 12- 13 (Fisioterapi ke 5) 5 - 6 Februari 2014
Kalau ini aku sudah bisa bilang kondisi ku di 75 % recovery. Semakin baik dan tingkat kepercayaan diriku semakin meningkat. Aku masih latihan menggerakkan wajahku di cermin. Setiap hari aku memperhatikan sisi kanan wajah ku. Mulutku sudah tersenyum dengan sempurna aku juga tidak merasakan kaku diwajah ku lagi, saat minum dengan sedotan aku juga sudah bisa mengontrolnya. Hidung ku belum terangkat dengan sempurna tapi lekukan di hidung sudah terbentuk. Hanya saat tertawa aku rasakan wajahku sedikit mencong, selebihnya aku merasakan baik-baik saja

Hari ke 14 , 15 dan 16 (Fisioterapi ke 6) 7, 8 dan 9 Februari 2014
Perubahan yang aku rasakan semakin baik. Tetapi aku mau mempercepat proses kesembuhan ku. Aku merasakan mulut ku sudah bisa aku gerakkan ke kanan dengan maksimal. mata ku juga sudah bisa berkedip. Lebih cepat respon kedipan yang aku rasakan. Iritasi dimata ku juga sudah berkurang. Aku berhenti meneteskan anti iritasi di wajah ku. Terapist bilang aku sudah bisa datang 3x sehari. Dan hari ini adalah hari terakhir aku konsumsi obat. Semoga prediksi dokter benar aku hanya butuh 3-4 kali terapi setelah konsultasi kemaren

Hari k eke 17 – 18 (Fisioterapi ke 7) 10 - 11 Februari 2014
Semakin baik. Sekarang mataku sudah berkedip dengan sempurna, alis ku sudah bisa aku angkat, hanya hidung yang belum bisa aku naikkan sedikit lagi. Aku bisa bilang kondisi ku sekarang 80 persen sembuh. Hanya butuh. 15 persen lagi. Aku sudah jarang mengompres wajah ku dengan air hangat. Kesibukan yang membuatnya tertunda, tetapi untuk latihan sebelah kanan aku lakukan dengan sering mengunyah permen karet dan menaikkan hidung ku di depan cermin.

Hari ke 19 – 20 (Fisioterapi ke 8) 12 - 13 Februari 2014
Ini adalah fisioterapi terakhirku, bukan karena aku menghentikan pengobatan tetapi besok aku harus berangkat ke luar Kota untuk 10 hari. Menurut perkiraan dokter juga ini adalah fisioterapi terakhir ku. Ada rasa deg – degan di hati ku. Apakah aku bisa sembuh dengan menghentikan fisioterapi ku dan tidak meminum obat. Hanya berdoa dan sabar yang bisa aku lakukan. Semoga semuanya baik-baik saja. Aku menghitung kondisi ku adalah 85 persen sembuh. Hanya butuh 15 persen lagi untuk sembuh total

Hari ke 21,dan 22 ( 14 - 15 Februari 2014)
Berada di suhu –minus 2 - 10 derajat Celsius. Masih menderita bell’s palsy tanpa obat dan tanpa terapi. Aku pura-pura lupa aku masih belum sembuh dengan sempurna. Perjalanan melelahkan dan suhu yang extreme aku lawan dengan membalut seluruh tubuhku dengan jacket dan syal. Intinya bagaimana aku bisa melawan bell’s palsy ku saat suhu extrem ini melanda.

Tepat dihari ke 22 aku merasakan perubahan di wajah ku. Rasanya seluruh wajah ku sudah bisa aku gerakkan dengan sempurna. Aku latih wajahku di depan cermin. Alhamdulillah semua bergerak dengan sempurna langsung aku berbisik dan tersenyum Bye bye Bell’s Palsy. Thank You Allah

Hal yang kamu lakukan Jika kamu Bell’s Palsy
  1. Jangan panik. Hal yang pasti dirasakan oleh penderita bells pasly adalah panic. Wajar dan sangat wajar sebenarnya tapi jangan sampai panic membuat penderita BP tidak bisa berfikir jernih
  2. Periksakan ke dokter. Ahli syaraf tentunya. Hal ini untuk memastikan apakah benar BP atau stroke (untuk tarif dokter specialist agak mahal sih selama pengobatan 2 kali konsul + obat dari dokter itu Rp, 590.000 untuk consul pertama dan Rp 265.000 untuk consul ke 2
  3. Minum obat teratur
  4. Rajin terapi dan latihan dirumah (untuk biaya terapi sekali terapi Rp. 100.000. Untuk klinik lain tarifnya antara Rp. 60.000 – 120.000. tergantung dimana melakukan terapi. Biasanya tempat prakter spesialis syaraf ada klinik terapi nya juga lohhh
  5. Sering-sering lah mengompres wajah yang terkena Bell’s Palsy
  6. Kunyah permen Karet di bagian wajah yang terkena Bell’s Palsy
  7. Jaga mata dari iritasi dengan rajin meneteskan tetes mata anti iritasi
  8. Jauhkan diri dari terpaan angin secara langsung ke wajah
  9. Tetap berpositif
  10. Menurut beberapa teman BP bisa sembuh dengan sendirinya sekitar 3 bulanan lah syaraf ke 7 tersebut akan kembali normal. Kalau sabar nunggu nya silahkan tapi lebih baik ditangani segera 
  11. Yang harus ada dalam diri kita adalah sabar dan ikhtiar

Semoga bermanfaat. Aku bisa sembuh aku berharap kawan-kawan yang menderita juga bisa sembuh dengan segera



Sunday, January 19, 2014

Bandung Lagi - Bandung Lagi

Dipenguhujung tahun 2013 aku punya kesempatan untuk muter-muter Kota Bandung dan menikmati alam yang indah. Sebenarnya bukan kali pertama aku ke Bandung selama tahun 2013 saja sudah 3 kali aku menginjakkan kaki di Kota Kembang ini.

Sebenarnya menyiasati liburan di tengah-tengah pekerjaan. Mumpung ada pertemuan di Bandung jadi extend untuk menikmati liburan. Tempat yang dikunjungi juga bukan tempat-tempat yang baru buat aku. Tapi tetap saja punya pengalaman berbeda disini 12 - 22 Desember 2013

1.       Pasar Baru
Kurang lebih seperti  Tanah Abang Jakarta atau pasar central kalau di Medan. Mau belanja apa aja silahkan pilih, dari harga yang paling murah sampai harga yang paling mahal. Tetap harus ditawar.

2.       Factory Outlet
Belum ke Bandung namanya kalau belum nyinggah ke factory outlet atau FO. Segala jenis baju dan model ada disini. Harga juga mulai dari yang murah sampai yang super mahal. Dago dan Jl, Ciempelas surganya outlet

Trans Studio
Karena ke Bandung dalam rangka kerja ga afdol rasanya belum berkunjung ke trans studio walaupun cuma sekedar berfoto dan berkeliling seputaran trans studio. Hehehhehe

3.       Darrut Tauhid
Kalau selama ini Cuma tau dari TV aja Darrut Tauhit itu sekarang bisa berkunjung lansung ke lokasi Darrut Tauhid. Kesan pertama yang aku rasakan saat berkunjung di lingkungan ini adalah  banyak anak kuliah, banyak wira usaha, lengkap dan mudah di akses. Punya kesemapatan selama 2 malam nginap disini alias numpang di kos anak Medan. Heheheh Thank ya Ima
4.       Kawah Putih - Ciwidey
Danau air panas yang tidak boleh masuk ke dalam airnya, alias ga bisa dibuat untuk mandi –mandi.  Kali kedua aku ketempat ini dengan situasi yang jauh berbeda, kalau sebelumnya aku kesini itu dengan cuaca panas yang sangat terik dan membakar kulit, kali ini dihiasi dengan badai dan dingin yang luar biasa, sampai-sampai payung yang kami gunakan menjadi fosil karena di terpa angin. Sangkin dinginnya jari-jari tangan seakan beku dan tidak berasa. Luar biasaa lah pokoknya




5.       Situ Patengan
Danau yang jauh dari kawah putih – Ciwidey. Katanya danau ini pernah digunakan untuk syuting film “Heart” Pemangdangan asri, ada beberapa kapal kecil yang bersandar di tepi danau, dan sepertinya tidak ada wisatawan yang beminat untuk naik kapal di hujan dan dinginnya udara. Aku pun tidak kuat berlama-lama di udara luar. Setelah berfoto mengabadika moment aku buru-buru masuk mobil. Ga kuattt. Pemandangan mulai dari Kawah Putih menuju Situ Patengan sangat indah walaupun di guyur hujan hamparan kebun teh yang seperti permadani buat aku sangat terpesona. Subhanallah luar biasa cantiknya. Seandainya hujan tidak sederas ini ingin rasanya berfoto di tengah-tengah kebun teh yang cantik ini. Cukup menikmati dari mobil saja kalau begitu

6.       Tangkuban Perahu – Lembang
Hmmmm berapa kali ya aku mengunjungi tempat ini, lebih dari 3 kali kayaknya dan selalu dengan orang yang berbeda. Masih belum berubah tempatnya. Masih ga ada kenderaan khusus dari gerbang masuk ke tempat wisata nya. Alhasil banyak suprir angkot yang menerapkan tariff super tinggi untuk wisatawan supaya  bisa sampai di tempat wisatanya. Kalau sudah kesini makanan yang tidak pernah aku tinggalkan adalah ketan bakar. Ga tau kenapa aku suka sekali dengan makanan ini. Mengenyangkan dan rasa nya unik, murah juga iya J Hehhehehe


  



7.       Cibaduyut
Awalnya dalam fikiranku Cibaduyut itu adalah tempat orang buat sepatu dan langsung di jual di tempat itu juga, ternyata tidak. CIbaduyut itu adalah nama jalan dimana sepanjang jalan yang ada toko sepatu buatan bandung. Jangan ditanya dimana dibuat yang aku liat Cuma toko-toko aja. Harga juga berfariasi mau yang mahal atau mau yang murah ? Kualiatas local atau impor yang penting wajib tawar dan harus berani menawar jauh lebuh murah dari harga mereka



8.       Car Free Day – GAZEBO
Mumpung hari minggu dan biasanya ada car free day di Bandung, gada salahnya nginggah dan melihat – lihat apa yang ada di sini. Tetep aja judulnya belanja-belanja belanja. Semua juga ada dari makanan, kebutuhan sekolah, kebutuhan rumah tangga, fasion sampai alat pancing pun ada dijual. Super komplit dahhh

Selama di Bandung aku sudah familiar dengan naik angkot. Hehehhehe lumayan lah down to earth. Walaupun di Medan naik angkot setahun sekali juga belum tentu. Tapi Luar biasa bisa kemana-mana naik angkot dan tau aktifitas masyarakat langsung di Kota Bandung





Wednesday, December 18, 2013

LOWONGAN KERJA STAFF AKMS TB CARE 'AISYIYAH SUMATERA UTARA. LOKASI MEDAN

Siapa tau ada yang berminat

DIBUTUHKAN SEGERA !!!
ACSM Staff SR

'Aisyiyah adalah organisasi Muslim Wanita yang didirikan di Indonesia pada tahun 1917 dengan kepedulian terhadap isu-isu sosial dan keagamaan. Principal Recipient TB ' Aisyiyah (PR - TB ' Aisyiyah) adalah Project Global Fund untuk memerangi penyakit Tuberculosis difokuskan pada kegiatan berbasis masyarakat , dikelola oleh Divisi Kesehatan Pimpinan Pusat ' Aisyiyah .

Dalam Round 10 (2014-2016) dari ‘Global Fund for AIDS , Tuberkulosis Malaria’ (GF-ATM), ‘Aisyiyah telah dipilih kembali untuk melaksanakan "Program Community TB -Care" dalam koordinasi dengan PR Kementerian Kesehatan .

Sebagai Principal Recipient (PR), 'Aisyiyah bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan kegiatan di tingkat masyarakat dari 14 Sub - Recipient (S1) yang mencakup 12 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah, dan 3 LSM lokal (KMP TB – Sidobinangun Lampung Tengah, YARSI, PKPU).

Program Community TB -Care saat ini mencakup 12 provinsi (35 % provinsi di Indonesia), 45 kabupaten (8 % kabupaten) dan akan diperluas menjadi sekitar 48 kabupaten .

PR - TB ' Aisyiyah saat ini sedang mencari kandidat untuk mengisi posisi di bawah ini :
Posisi : Advocation, Communication, & Social Mobilisation (ACSM) Staff
Lokasi : 12 SR R-10
Bertanggungjawab kepada : Coordinator Program SR
Gaji : 2,4 – 3 juta rupiah per bulan

Dengan kualifikasi sebagai berikut :
1. Minimum S1
2. Maksimal Usia 40 tahun
3. Memiliki pengalaman kegiatan advokasi, kebijakan publik dan pengembangan masyarakat minimal 2 tahun.
4. Memiliki kemampuan fasilitasi dan pengelolaan jaringan
5. Memiliki kemampuan lobbying dan negosiasi
6. Pernah melaksanakan proyek yang relevan/ sejenis minimum 2 tahun
7. Mempunyai background pengalaman di CSO/ FBO/NGO
8. Mampu bekerja berdasarkan target
9. Memiliki kemampuan computer (Ms. Office, internet)

Kandidat yang berhasil akan melakukan tugas dan kewajiban sebagai berikut :
1. Melakukan kegiatan advokasi mulai dari pembuatan perencanaan advokasi (pembuatan rencana aksi, road map, rencana kerja), melakukan lobbying baik eksekutif, legislatif, NGO, dunia usaha dan media.
2. Mengembangkan dan distribusi media campaign sesuai kebutuhan advokasi dan pengembangan masyarakat
3. Melakukan pengalangan sumber daya dalam rangka membantu pengembangan KMP atau keberlanjutan program.
4. Melakukan pemantauan terhadap kegiatan advokasi dan pengembangan masyarakat oleh
SSR
5. Memberikan peningkatan kapasitas advokasi dan penggalangan sumber daya bagi organisasi pendukung.
6. Menjaga dan mencegah, menghindari terjadinya konflik kepentingan melalui prosedur-prosedur yang tertuang dalam PPP (Pedoman Pelaksanaan Program), sesuai dengan ruang lingkup tanggung jawabnya

Surat Lamaran dan CV dapat dikirimkan sampai tanggal 2 Januari 2014 ke alamat:

TB Care ‘Aisyiyah
d/a Gedung Dakwah Muhammadiyah
Jl. Sisingamangaraja No 136
(Depan Taman Makam Pahlawan)
Medan 20217

Atau Email: ridha.yuanita@gmail.com ( tidak lebih dari 300kb)