- Part 9 -
Jum’at 21 Februari 2014
Ini adalah hari terkahir kami Backpacker di China, nanti malam kami akan kembali ke Kuala Lumpur dan diteruskan besok pagi ke Negara tercinta. Sampai dengan pukul 7 pagi kami masih belum tau kemana kami akan pergi. Apakah akah keliling Shenzhen atau ke Huangzhou. Kalau melihat jadwal kereta dari dan ke Huang Zhou di web itu ada setiap 15 menit sekali jadi Plan A yang kami rencanakan adalah ke Huang Zhou sampai dengan tengah hari dan kemudian balik ke Shenzen untuk keliling Shenzen. Sementara Plan B adalah keliling Huang Zhou dan kembali ke Shenzen sore hari sebelum pukul setengah 5 agar tidak terburu-buru ke Bandara di malam hari.
Shenzhen – Huang Zhou
OK setelah perdebatan sedikit dengan Mas Didit akhirnya kami putuskan untuk Ke Huangzhou. Kami menitip tas di Garden Inn dan berangkat menuju Shenzhen North harus berhenti ganti MRT di Buji. Niatnya kan lewat dari Lou Jie karena ga perlu sambung MRT lagi, jadi kami mencari stasiun Lou Jie yang berada disebrang jalan hotel kami. Tapi persisnya dimana kami juga tidak terlalu tau. Setelah berjalan cukup lama kami belum memukan station MRT Lou Jie. Ada sih tanda rambunya tapi saat kami mengikuti rambu tidak menemukan juga. Kami mengikuti rambu hingga sampai di lorong-lorong toko yang masih belum buka. Aku ga mau jauh dari Mas Didit. Terbayang oleh ku jika aku berjalan sendiri disini dan ada orang yang beniat jahat terhadap ku tidak ada yang tau apa yang mereka lakukan dan aku hanya tinggal nama di negeri orang. Ahhh langsung ku tepis pikiran seperti itu dan aku berlari menyamai langkah ku dengan Mas Didit.
Setelah berjalan terus akhirnya kami menemukan stasiun Low Jie.
Masih sepi sekali. Kami naik MRT menuju stasiun Shenzhen North tapi harus mengganti kereta di Shin Ming Zhong Xin. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 9.30. waktu kami
terbuang hampir 1 jam lebih untuk mencari stasiun Low Jie.
Begitu sampai stasiun kami harus naik MRT lagi menuju YueXiu station. Dimana
dari stasiun MRT tersebut sudah dekat dengan Mesjid Bersejarah Huang Zhou. Keluar dari stasiun kami bingung mencari arah bagaimana caranya
kesana. Berjalan mondar – mandir tanpa hasil, dan berbekal dengan GPS kami
berhasil menemukan jalan yang menuju mesjid bersejarah. Aku melihat seorang
cewek bermuka oriental dan memakai jilbab berjalan terburu-buru. Kami memutuskan
mengikuti si cewek oriental tersebut. Tapi kemudian kami kehilangan dia saat di
tekongan jalan, kami ga tau harus kemana berjalan, tapi feeling kami mengatakan
kami berada di jalan yang benar.
Masuk ke dalam mesjid aku sempatkan mengabadikan berberapa foto-fotodan Mas Didit sholat tahyatul Aura mesjid, benar-berar berbeda dengan yang ada di Indonesia. Dan ternyata selama aku di negeri China baru kali inilah toilet yang ada air nya untuk membasuh. Benar-benar Islam mengajarkan kebersihan. Luar Biasa….
Didepan Mesjid banyak terdapat tempat makan halal. Mulai dari makanan timur tengah sampai makanan tradisional yang halal. Mesjid tua ini menjadi mesjid bersejarah karena banyak sekali wisatawan berkunjung disini dan lagi-lagi wajah Indonesia dan Bahasa Indonesia yang aku rindukan terdengar disni. Makin rindu dengan Negara ku Indonesia Mas Didit memilih makan di warung muslim di sebrang pintu gerbang mesjid tapi karena semua menunya daging aku ga beminat makan jadi Cuma ngeliat mas Didit makan aja. Di depan rumah makan ini juga ada buah-buah kering yang dijual. Ada kiwi kering, anggur, jeruk, semuanya di keringkan. Kami membeli untuk oleh-oleh ketimbang gada yang dibawa dari sini.
Setelah Mas Didit selesai makan aku juga lapar, aku minta sama mas Didit untuk cari rumah makan muslim yang lain. Menunya ala kebarat-baratan spagetty. Hehehe Mas Didit bilang mau sholat zuhur dulu di mesjid berarti aku harus makan sendirian gapapa lahhh. Gada yang nyulik juga. Heheheheh
Setelah aku selesai makan… koq Mas Didit dan jamaah lain ga selesai-selesai yaaa sholatnya. Karena aku juga sudah bosan menunggu di rumah makan aku langsung aja berinisiatif untuk menunggu Mas Didit didepan pintu gerbang masjid. Pemandangan di pintu gerbang masjid aga berbeda ada banyak orang yang berdiri di depan masjid sambil membawa brochure dan lain lain, pakaiannya keren-keren aku blom tau apa yang akan mereka lakukan disana. Cuma berdiri dan menunggu Mas Didit.
Shenzhen… ke Huang Zhou
Menurut internet jadwal kereta api dari Shenzhen ke Huangzhou setiap jam, tetapi kenyataannya tidak setiap jam kereta yang menuju ke Shenzen. Dan saat kami tiba di Stasiun Huang Zhou Selatan kereta yang menuju Shenzen baru saja berangkat dan kereta berikutnya paling cepat 4.25 pm atau 2 jam lagi. Ya Ampuuunn apa yang harus kami lakukan ??? Malam ini kami harus terbang ke Kuala Lumpur. Aku panik takut ga sempat balik ke Shenzhen dan tengah kepanikanku Mas Didit memaksa ku untuk membeli tiket pukul 04.25 pm tersebut. Sempat berdebat karena aku terlalu khawatir ketinggalan pesawat. Mas Didit bilang kita ga punya pilihan semoga waktu nya sempat. Hmmm… dengan perasaan lunglai aku mengikuti Mas Didit berkali-kali aku protes ke dengan jadwal di webseite yang ga sesuai dengan kenyataannya. Jarak Huang Zhou – Shenshen sekita 130 km kalau naik kenderaan juga akan memakan waktu sekitar 2 jam dan kami tidak tau naik apa kesana. Cuma kereta lah yang menjadi alternative. Gada yang bisa diperbuat selain berdoa semuanya on schedule.
Kita naik MRT Mas Didit berkata tegas, aku harus mengalah waktu 10 menit yang diberikan kepada ku sudah berlalu menjadi 18 menit. Waktu yang sia-sia terbuang padahal 1 menit pun sangat berharga buat kami. Kami berdua berari menuju stasiun MRT dan dari Shaibu menuju Laujie. Semua dengan berlari beruntung MRT arah menuju bandara tidak ramai dan kami hanya perlu menunggu 5 menit untuk naik MRT nya.
Begitu duduk didalam MRT mata ku terus mengarah peta MRT yang ada di depan ku. Kami harus melewati 30 pemberhentian kalau 1 pemberhentian membutuhkan waktu 2 menit maka kami butuh waktu 60 menit untuk sampai ke Bandara dan butuh waktu 10- 15 menit lagi untuk naik M46 ke bandara. Ahhh semoga tidak terlambat.
Tik tok tik tok…
Kami telah melewati 30 pemberhentian, untuk ke airport kami harus berhenti di Hau Rui dan langsung ada shuttle bus free dengan nomor M46 ke airport. Untungnya kami juga tidak harus menunggu lama. Bus nya sudah penuh dengan aku dan Mas Didit penumpang terakhir. Butuh waktu sekitar 10 – 15 sampai ke airport. Dan 15 menit itu pun berlalu.
Fly to Kuala Lumpur… Selamat tinggal China. Suatu saat aku akan datang lagi ke sini dengan orang-orang yang aku sayangi. 3.45 menit mengudara sampailah di Negara tetangga pukul 02.30. Menunggu disini sampai pukul 07.30 sebelum terbang lagi ke Negara ku Indonesia dan Kota tercinta ku Medan
Welcome To Medan…
Kemanapun aku melangkahkan kaki...
Menjelajah negeri orang...
Tetapi Negeri ku Indonesia tetap kurindu.
Aku mau mati dan dikubur di negeri ku tercinta ini !
INDONESIA….